#JalanPagi: Dari Wonorejo untuk Kota yang Indah

Pagi ini saya memutuskan #JalanPagi di Taman Wonorejo atau biasa juga disebut Taman Bibit Wonorejo.

Dari namanya itu saja, kita sudah menebak isinya apa saja. Iya, di sini salah satu pusat pembibitan berbagai jenis tanaman yang tumbuh di taman lain, khususnya yang terlihat di sepanjang jalan kota Surabaya. Dari Taman Wonorejo ini lah, Surabaya menjadi kota yang penuh bunga dan pohon.

Taman ini berada di Jalan Kendalsari, Kel. Wonorejo, Kec. Rungkut. Dari jalan, kita melihatnya seperti hutan kecil. Banyak pohon yang sudah menjulang, serta sangat rimbun.

Saat memasuki pintu gerbang, taman ini sepertinya kurang terawat. Sebab di sisi kanan jalan masuk, terdapat banyak rongsokan. Mungkin di sini juga menjadi tempat pengumpulan berbagai fasilitas yang rusak dari berbagai teman di Surabaya.

Meski banyak tumpukan rongsokan seperti itu, bukan berarti taman ini tidak indah sama sekali. Bagian lainnya, tetap terawat dengan baik. Sebagaimana biasanya, ada beragam jenis bunga, pohon, dan satwa peliharaan.

Saya memembelok ke kanan, ingin melihat apa-apa saja di sana. Wow, ternyata di sana ada pusat pembuatan pupuk kompos. Gudang pembuatan kompos itu besar sekali. Di sana, saya perhatikan ada tumpukkan daun dengan berbagai kondisi. Ada yang masih utuh, hingga ada yang hancur menjadi pupuk.

Kamu tahu tidak, pusat kompos ini ada berkat kerja sama antara Pemkot Surabaya dengan Pemkot Kitakyus (Jepang). Sudah ada sejak 1 Oktober 2014, dengan luas 141 m2 dan kapasistas pembuatannya mencapai 20 ton per hari.

Masih menurut informasi yang terpajang di bagian depan, keberadaan pusat kompos itu dimaksudkan untuk mengurangi sampah yang dibuat ke TPA. Khusnya sampab organik yang bisa diolah menjadi pupuk.

Pupuk itu nantinya dipakai di berbagai taman di Surabaya, serta boleh diambil oleh siapa saja yang membutuhkan. Bagus sekali, bukan?

Saya mulai paham, kenapa taman-teman di Surabaya itu terlihat subur. Pupuk kompos ini salah satu rahasianya.

Dari sana, saya berbalik arah karena jalannya buntu. Tapi, sebelum berpindah terlalu jauh, saya penasaran dengan sebuah alat yang berdiri di samping pusat kompos tadi. Setelah saya selidik, ternyata itu adalah alat pembangkit listrik tenaga sampah buatan kampus ITS.

Saya berdecak kagum melihat karya tersebut. Sampah, bisa dikonversi jadi listrik.

Saya coba membanyangkan proses kerjanya dengan membaca beberapa petunjuk di sana. Bahan dasarnya hanya sampah kering seperti ranting kayu dan daun-daunan, ditambah dengan abu dapur. Semuanya diproses dalam alat tersebut, hingga menghasilkan listrik yang ditabung di accu. Kemudian selanjutnya dialirkan sesuai kebutuhan.

Alat pembangkit listrik tenaga sampah itu, tampaknya sudah tidak dipakai. Saya menduga, mungkin karena belum terlalu efektif bila dibandingkan dengan listrik dari sumber yang sudah ada saat ini (tenaga diesel, batu bara, air, angin, dll).

Tapi, bukan tidak mungkin alat itu bisa disempurnakan lagi nantinya. Bila isu yang disajikan dalam film dokumenter Sexy Killers (sudah nonton, kan?) terus digaungkan, maka alat ini bisa menjadi sumber energi alternatif. Semoga ITS tidak hanya fokus mobil listrik, tapi listrik dari sampah ini juga.

Saya teruskan perjalanan menuju danau. Sebelum sampai ke danau, saya singgah sebentar di kandang rusa dan unggas yang lagi diberi sarapan sama petugas.

Di tepi danau, tersedia juga alat kebugaran statis dengan berbagai fungsi. Lalu danaunya, wow, keren sekali.

Sinar mentari pagi yang muncul di celah-celah pohon, membentuk warna yang unik. Bayangan pohon di danau yang tenang. Orang-orang yang berlari senang. Semuanya membentuk suasana yang….(sulit dideskripsikan dengan kalimat).

Saya mulai berlari di jogging track, –di sekeliling- danau. Lalu mengikuti jalan setapak menuju hutan kecil. Di sana, ada begitu banyak bibit tanaman yang siap diedarkan.

Bibit tanaman itu kebanyakan bunga dan pohon rindang. Ada juga pohon produktif seperti nangka dan mangga.

Fasilitas penujang di tempat ini juga termasuk komplet. Toiletnya bahkan ada untuk penyandang disabilitas. Lalu ada taman baca sekaligus pusat pelatihan warga, musala, tempat camping, dan yang paling penting lagi ada fasilitas air keran yang bisa langsung diminum. Semuanya itu gratissss…..

Setelah puas berlari mengelilingi area taman, saya mendengar lantunan musik dangdut di dekat danau. Oh, ternyata ada kelompok ibu-ibu yang sedang bersiap untuk senam. Saya ikut menyusup di barisan paling belakang.

Saya selalu heran, kenapa senam aerobik seperti ini selalu didominasi ibu-ibu? Ke mana bapak-bapak? Dan yang paling penting dari persoalan ini adalah: Di mana peran negara?

Ah, ribet sekali…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close