#JalanPagi: Perbincangan di Kapal

Dugaan saya sebelumnya tepat, banyak sekali penupang dari NTT dan NTB yang turun di Pelabuhan Benoa-Bali kemarin (29/7).

Ketika KM. Awu berlayar lagi pada pukul 11.00, suasananya lebih lengang dari sebelumnya. Tidak ada lagi yang menggelar tikar atau kasur tipis di lorong-lorong kapal. Padahal sebelumnya, susah sekali kita mengitari kapal. Terhalang orang-orang yang tidur di sembarang tempat.

Kapasitas kapal memang terbatas, sedangkan penumpang sangat banyak. Mereka buru-buru ke suatu tempat, sehingga memohon kepada operator Pelni agar tetap dilayani. Sehingga ada tiket yang disebut “Non Seat.”

Bila kita mendapat tiket seperti itu, kita tidak lagi mendapatkan “seat”, dalam hal ini tempat tidur. Penumpang tetap mendapat pelayanan lain seperti makan selama perjalanan, tapi untuk tidur atau sekadar leyeh-leyeh, penumpang harus membeli tikar dari karung bekas sebagai alasnya. Kemudian digelar di mana saja ada lokasi kosong.

Ada juga jenis penumpang lain, tidak ada tiket sama sekali. Dengan berbagai cara mereka lolos saat pemeriksaan di pintu masuk kapal. Golongan penumpang ini tetap akan ketahuan, sebab dalam perjalanan, petugas kapal selalu melakukan pengecekan tiket. Mereka tetap akan membayar, tapi tidak mendapat fasilitas makan dan tempat tidur.

Tentu saja ada sisik baik dan buruknya.

Baiknya karena setiap orang yang ingin berpergian, semua terlayani. Meski itu membuat antrian kamar mandi atau WC diluar batas kewajaran. Entah soal alat keselamatan seperti pelampung dan daya tampung sekoci yang tersedia. Syukur kalau tidak ada kecelakaan selama berlayar. Itu sebagian sisi buruknya.

***

Hal menarik lain yang saya temukan selama berlayar ini, bisa berbicang dengan banyak orang.

Amatan saya, sesama penumpang dalam kapal cepat akrab. Mereka saling mentraktir kopi, menyantap mie gelas, makan nasi bersama, berbagai rokok, dan hal lain. Tentu saja sambil berbincang santai.

Selain pemuda Sumba yang sudah saya ceritakan dalam tulisan sebelumnya, ada juga seorang Bapak dari Kupang yang hendak berlabuh ke Kumai-Kalimantan.

Dia sebenarnya berbagi cerita dengan kawannya yang lain, tapi karena saya ada di dekat situ, akhirnya ikut bergabung dalam lingkaran perbincangan mereka.

Mereka bercerita tentang pengalaman merantau di Kalimantan. Sebagian besar menyinggung Kelapa Sawit. Ada juga yang bekerja di bidang industri kayu, batu bara, dan kerjaan lainnya.

Bapak yang diperkirakan berusia 60-an tahun itu bercerita, dulu sewaktu muda dia bekerja di bidang perkayuan di Kalimatan.

“Sekitar tahun 89/90 adek, itu kami dapat uang banyak sekali. Gajinya besar.”

Saya merespons dengan oh yang panjang, dan memasang mimik muka yang menjelaskan: teruskan saja ceritanya.

“Sialnya adek,” Bapak tua itu sepertinya paham yang saya inginkan, “waktu itu kami foya-foya saja. Begitu terima uang, kami bergantian membeli minum. Kami mabuk-mabukan dengan kawan. Kami pakai cewek untuk menuangkan tuak.”

Saya menunggu penjelasan lebih lanjut mengai “cewek” yang disebut itu, apakah hanya bertugas menuangkan minuman di gelas atau ada tugas menuangkan hal yang lain?

Sial, bapak tua itu tidak menjelaskan lebih detail. Saya juga sungkan mengorek lebih jauh. Tidak enak dengan orang tua. Tapi dari sorot matanya, saya bisa menangkap satu hal: kamu mengarti sendiri saja kalau sudah mabuk dan ada cewek yang dibayar di situ.

“Andaikan dulu kami bisa mengatur uang,” katanya lagi dengan nada penyesalan, “mungkin saat umur tua ini tidak perlu merantau lagi.”

Saya ikut iba dengan ceritanya, lalu dengan sebisanya saya memberi semangat. “Yang penting masih punya semangat kerja saja, Pak…”

***

Penumpang lain, naik kapal dari pelabuhan Bima. Saya lupa bagaimana awalnya sampai kami bercerita sangat penjang. Mulai dari masalah rumah tangga, pekerjaan, hingga pandangan hidup.

Dia aslinya dari Makassar. Karena mendapat istri orang Bima, maka dia menetap di sana.

Pekerjaan yang dilakoninya selama ini sangat banyak. Pernah berlayar dengan kapal barang sebagai ABK (kru kapal), lalu kerja di berbagai proyek. Saat ini, dia punya keterampilan khusus untuk instalasi litrik, khususnya memasang tiang yang besar dan tinggi.

Saat ini, ia dan istrinya hendak ke Kumai. Katanya ingin mencoba pekerjaan baru di sana. Ada kawannya yang mengajak ke sana.

Bagi dia, pengalaman adalah guru yang baik. Makanya dia suka bertualang, pindah-pindah tempat kerja. Semakin banyak tahu dan mengenal banyak orang, itu keuntungan yang bisa diperoleh, katanya.

Banyak sekali prinsip hidupnya yang menarik, salah satunya yang paling mengejutkan saya adalah: “Dunia ini tidak keras, kita saja yang lemah…”

Jujur, saya baru mendengar ungkapan seperti itu. Kemudian dia menjelaskan apa maksudnya. Intinya, kita manusia tidak boleh lemah. Terus berusaha dan berdoa. Pasti ada jalan bila ada kemauan. Dunia bisa ditaklukan bila kita mau berusaha.

Banyak hal lain yang dia bagikan. Bagi saya, semuanya berarti.

Ada begitu banyak orang bijak dalam kapal ini. Tinggal kita memancing pembicaraan dengan tepat, lalu jadi pendengar yang baik, mereka akan berceramah melebihi pembicara hebat di luar sana. Dan saya suka mendengar pengalaman hidup yang penuh perjuangan seperti itu.

Kapal kami sudah berlabuh di Tanjung Perak – Surabaya. Sampai jumpa lagi dalam pelayaran selanjutnya, demikian pengumuman petugas kapal.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close