Novel Juara

Saya lega begitu mendapatkan novel terbaru karya Felix K. Nesi ini, langsung dari penulisnya. Tentu saja disertai tanda tangan.

Saya bukan kritikus sastra, sangat awam dengan bidang tersebut. Saya hanya menyukai cerita. Karenanya, ulasan ini asal-asalan saja.

Novel Orang-Orang Oetimu ini sangat menyenangkan. Adegan-adegan ceritanya begitu melekat dalam ingatan.

Mengenai kemampuan bercerita, Felix buka orang baru lagi. Saya sudah pernah menuliskan kepiawaiannya dalam menulis. Saya hampir membaca semua karyanya, mulai dari puisi yang tersebar di beberapa media daring, kumcer pertamanya “Usaha Membunuh Sepi,” berbagai blog yang pernah ditulisnya, salah satunya bernama: Sufmuti. Belum lagi tulisan-tulisan singkatnya di Fb. Bagi saya, setiap Felix menulis tentang apa saja, entah kenapa, selalu menarik dibaca.

Lagi pula, novel ini adalah novel juara sayembara novel DKJ tahun 2018. Kalau sudah dinyatakan juara, tidak relevan lagi kalau saya membahas sisi kualitasnya. Novel juara sudah pasti memenuhi syarat cerita yang baik. Penilainya sesepuh dalam bidang penulisan di Indonesia.

Alasan lain yang membuat saya wajib memiliki buku ini, karena diterbitkan oleh Marjin Kiri.

***

Saya telah menetapkan penulis favorit di Indonesia, namanya Puthut EA. Saya pun berkomitmen, setiap kali penulis favorit saya itu menerbitkan buku, cepat atau lambat, akan segera saya miliki koleksinya.

Suatu ketika, dia pernah menulis berisi pujian kepada penerbit Marjin Kiri. Kira-kira dia menulis begini, setiap kali ada buku baru terbitan Marjin Kiri, saya tidak perlu cek ini-itu lagi, langsung beli saja. Karena pasti berkualitas.

Perpaduan antara kualitas seorang Felix dan Marjin Kiri, menjadikan buku O3 ini menjadi buku yang wajib dibeli. Kemudian saya berpikir, Felix sudah layak masuk penulis favorit yang kedua bagi saya. Kelak, ketika dia menerbit buku lagi tentang apa saja, sudah pasti akan saya miliki.

***

Bila kita bicara film, teman-teman saya selalu menjagokan film barat dibandingkan film Indonesia.

Menurut mereka film Indonesia, -apalagi kalau sinetron, jalan ceritanya mudah sekali ditebak. Karenanya sangat membosankan.

Beda dengan film barat, banyak hal-hal yang tidak diduga bisa terjadi. Banyak kejutannya. Dan itulah salah satu ciri cerita terbaik.

Kesan saya setelah membaca O3, Felix sangat cerdas menghadirkan banyak kejutan dalam novel juaranya itu.

Alur ceritanya yang maju-mudur-cantik itu membuat saya tidak bisa menunda untuk menyelesaikannya. Saya penasaran dengan tokoh-tokoh yang berkarakter sangat kuat.

Dari sekian banyak kejutan yang Felix ciptakan, ada satu yang menurut saya paling menggetarkan. Saya sampai membaca berulang kali pada bagian tersebut, hanya memastikan siapa sih yang menanam benih di rahim Selvy? Apakah Romo Yosef atau guru muda Linus yang dikenal goblok itu?

Penasaran itu dimulai pada bagian akhir bab 6. Ketika Silvy baru selesai bercinta dengan Sersan Ipi, dia memperhatikan keringat yang mengalir di dada lawan mainnya itu. Saat itu, dia teringat akan dada Romo Yosef, yang berbulu dan berkeringat.

Sejak itu, saya langsung menduga Romo Yosef lah yang menggagahi tubuh Silvy pertama kali.

Ketika pada bab selanjutnya tokoh Romo Yosef mulai diperkenalkan dari awal, saya kadang membaca buru-buru. Di bagian mana dia menindih tubuh Silvy?

Saking buru-burunya mencari bagian yang paling seru itu, saya merasa tidak begitu teliti lagi.

Ah, ketemu. Ketika Silvy sedang terangsang sendirian akibat mendengar erangan Romo Yosef dan mulai melakukan masturbasi, selanjutnya dijelaskan ada orang yang datang tiba-tiba, kemudian menindihnya. Mencium, mengulum, mengisap, memompa, hingga croot! Di bagian akhir bab tersebut, ada narasi tambahan: Silvy masih mendengar erangan Romo Yosef: Maria…, oh Maria…”

Sebelum melanjutkan pada bagian berikut, saya makin yakin kalau Romo Yosef itu cabul. Apalagi pada bagian narasi sebelumnya, dia pernah mencium salah seorang umatnya. Hmm…positif romo itu otak mesum.

Saya langsung memastikan romo itu bajingan. Celakanya, saya mulai mengingat-ingat peristiwa tidak senonoh yang melibatkan oknum imam Katolik itu.

Sudah banyak kasus terkuak, ada imam Katolik yang terbukti menghamili pacar gelapnya atau melakukan tindakan asusila lainnya. Mengenai hal itu, bahkan Bapa Paus Fransiskus juga mengakui kalau dalam gereja Katolik itu ada banyak kasus asusila yang dilakukan biarawan/biarawati.

Saya makin yakin saja, pasti Romo Yosef pelaku yang menghamili Sylvi.

Sebagai orang yang pernah sekolah dan tinggal di asrama sekolah Katolik, saya teringat kembali akan gosip-gosip masa itu.

Saat saya tinggal di asrama itu, pembina asramanya adalah frater dan romo. Ada beberapa teman putri yang acap kali keluar-masuk kamar romo atau frater. Benar atau tidak, gosip beredar di antara anak asrama. Mereka pasti begini-begitu, dengan berbagai bumbu yang membuat cerita gosip itu makin menarik. Benar atau tidaknya, hanya Tuhan yang tahu.

Kenangan-kenangan itu lah yang membuat saya makin yakin, romo-romo masa kini sudah tidak bisa dipercaya semuanya. Kalau mereka tidak segera memperbaiki citranya, lama-lama umat Katolik tidak percaya pada gereja. Lebih memilih langsung berdoa pada Tuhan yang diimani saja. Tanpa perantara imam lagi dan institusi gereja.

Saat Romo Yosef mengumpulkan guru-guru dan pembina asrama di sekolah yang dipimpinnya, saya sempat jengkel ketika dia pura-pura bertanya siapa yang menghamili Sylvi?

Apalagi ketika dia bersumpah atas nama Bunda Maria dan nama ibu kandungnya. Dalam benak saya langsung memakinya, bukankah kau yang meloloskan burungmu dalam gua lembab Sylvi? Eh, dia malah bertanya ke orang lain.

Saya agak kaget ketika guru yang bernama Linus mengangkat tangan, ia mengakui kalau sperma yang membuahi sel telur Sylvi itu miliknya secara sah.

Banyak orang tidak percaya, termasuk saya sebagai pembaca. Setelah saya membaca lanjut pada bagian berikut, ternyata memang guru goblok itu yang beruntung menikmati tubuh Syvli untuk pertama kalinya. Cukagaram!

Saya tidak menduga sedikit pun ceritanya berakhir lain. Ternyata memang bukan Romo Yosef pelakunya. Maafkan saya romo, ampunilah dosa-dosa saya.

Itulah salah satu contoh kecerdasan Felix dalam bercerita. Benar-benar kampiun.

Hal kedua yang ingin saya komentari itu tentang hubungan seks yang dinarasikan dalam novel tersebut.

Awalnya saya merasa aneh, kok ceritanya vulgar sekali. Banyak adegan seks dan makian.

Saya tidak menyangka, menulis tentang makian dan pengalaman bermain kelamin itu begitu menarik untuk diikuti.

Awalnya saya berpikir itu tabu dalam dunia kepenulisan. Mungkin karena sering membaca banyak peringatan dari berbagai situs atau penerbit yang tidak menerima naskah yang mengandung unsur SARA, kekerasan, seks dan sebagainya.

Setelah membaca O3 dan novel Eka Kurniawan “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas,” saya baru tahu kalau menulis hal-hal seperti itu sah-sah saja.

Apa jadinya sebuah cerita tanpa unsur tersebut? Sudah pasti garing.

Saya akhirnya setuju dengan Felix. Kehidupan seseorang itu tidak melulu baik. Tidak hanya berdoa dan baca kitab suci saja. Tapi juga makan, masturbasi, melakukan hubungan seks, dan aktivitas lainnya.

Saat membaca anak sekolah yang kadang menyerahkan dirinya pada sopir dan konjak angkot demi tumpangan gratis, saya juga mengamininya. Setip kali membaca koran lokal di Kota Kupang, kejadian seperti itu jamak terjadi.

Ada satu berita yang selalu saya ingat tentang liarnya seks bebas di sekitar kita.

Kisahnya, ada dua orang anak SMA. Mereka berduaan saja di kos-kosan, sementara teman lainnya bertamasya ke pantai.

Si laki-laki menggoda teman ceweknya, “Lu senior di mana?”

“Beta senior di sumur, dapur, dan ranjang.”

“Senior di ranjang?” Tanya si laki-laki dengan tatapan ingin.

Tatapan itu dibalas dengan sinyal yang sama. Maka terjadilah…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close